JAWA TIMUR, JAWAHEADLINE.COM - Saat bulan Suro tiba, aroma santan dan beras yang dimasak perlahan mulai tercium dari dapur-dapur warga di sejumlah kampung Jawa.
Di tengah perubahan zaman yang serba modern, tradisi membuat Jenang Suro masih tetap bertahan dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Bagi sebagian orang, Jenang Suro mungkin hanya terlihat sebagai makanan tradisional. Namun bagi masyarakat Jawa, hidangan tersebut menyimpan makna yang jauh lebih dalam.
Jenang Suro dibuat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus doa agar diberikan keselamatan, keberkahan, dan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
Baca Juga: Makna Jenang Suro dalam Tradisi Masyarakat Jawa, Simbol Syukur dan Doa Keselamatan
Peneliti budaya Jawa dari Universitas Islam Internasional Indonesia, Sofi Ghoniyah, dalam penelitiannya berjudul Jenang Sura: Akulturasi antara Tradisi Lokal Jawa dan Nilai-Nilai Islam, menjelaskan bahwa tradisi Jenang Suro merupakan bentuk perpaduan antara budaya lokal Jawa dan nilai-nilai Islam yang berkembang di masyarakat.
Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Muharram atau Suro sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus ekspresi religius masyarakat Jawa.
Menurut Ghoniyah, keberadaan Jenang Suro tidak hanya berkaitan dengan tradisi leluhur, tetapi juga menjadi sarana masyarakat untuk merefleksikan diri dan memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan.
Tradisi tersebut menunjukkan bagaimana budaya dan agama dapat berjalan berdampingan dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Baca Juga: Jenang Suro, Tradisi Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di Bulan Suro
Sementara itu, penelitian yang dilakukan Faizal Efendi dalam jurnal Tradisi Jenang Suro Sebagai Pengikat Solidaritas Sosial menemukan bahwa masyarakat memaknai Jenang Suro sebagai simbol rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT sekaligus media mempererat solidaritas sosial.
Tradisi ini diwariskan dari generasi ke generasi dan terus dilaksanakan setiap datangnya bulan Suro.
"Jenang Suro bukan hanya makanan tradisional, tetapi simbol doa dan kebersamaan masyarakat. Melalui tradisi ini, warga saling berbagi dan memperkuat hubungan sosial," ujar Faizal Efendi dalam hasil penelitiannya.
Tidak heran jika setelah proses memasak selesai, Jenang Suro biasanya dibagikan kepada tetangga, kerabat, maupun tamu yang datang.
Artikel Terkait
KJRI Johor Bahru Lindungi Dua WNI Korban Dugaan Kekerasan Majikan di Malaysia
Terancam 20 Tahun Penjara, Sadewo Mantan Bupati Pati Jateng Didakwa Korupsi Pengisian Perangkat Desa dan Proyek Jalur KA
Viral ! Supplier Curhat Ogah Jadi Pemasok MBG, Keluhkan Harga Ditekan hingga Dugaan Nota Kosong
Nasib Proyek Motor Listrik BGN Rp1 Triliun Jadi Sorotan, Dudung Usul Pegawai SPPG Cicil Motor Sendiri
BGN Ungkap Siswa SMA Berpotensi Tak Kebagian MBG Lagi, Ini Alasan di Baliknya
Nanik S Deyang Hindari Wartawan soal Motor Listrik BGN, Anas Urbaningrum: Sebaiknya Tidak Menghindar
Viral Kericuhan Diskusi UGM, Sudaryono Bantah Kabur dan Ungkap Alasan Keluar dari Lokasi
BGN Bakal Setop Sementara Program MBG Saat Libur Sekolah, Seluruh Dapur SPPG Akan Diaudit
Jenang Suro, Tradisi Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di Bulan Suro
Makna Jenang Suro dalam Tradisi Masyarakat Jawa, Simbol Syukur dan Doa Keselamatan