Jejak Dua Abad Tradisi Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta

Photo Author
Harry Purwanto, Jawaheadline.com
- Rabu, 17 Juni 2026 | 07:31 WIB
Tradisi Mubeng Beteng Yogyakarta di Malam 1 Suro 2026 (Jawaheadline.com)
Tradisi Mubeng Beteng Yogyakarta di Malam 1 Suro 2026 (Jawaheadline.com)

Pandangan serupa juga disampaikan peneliti asal Jerman, Susanne Rodemeier, yang mengkaji Mubeng Beteng dalam karya ilmiahnya Mubeng Beteng: A Contested Ritual of Circumambulation in Yogyakarta.

Ia melihat ritual tersebut sebagai contoh bagaimana tradisi Jawa mampu bertahan dan beradaptasi di tengah arus modernisasi tanpa kehilangan makna spiritualnya.

Baca Juga: Jenang Suro, Tradisi Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di Bulan Suro

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, tradisi Mubeng Beteng tetap menjadi magnet budaya yang menarik ribuan peserta setiap tahunnya.

Banyak peserta mengikuti ritual itu bukan hanya untuk melestarikan budaya, tetapi juga mencari ketenangan batin di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.

Bagi masyarakat Yogyakarta, Mubeng Beteng bukan sekadar warisan leluhur yang dipertahankan.

Tradisi itu menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup tidak selalu harus dijalani dengan tergesa-gesa. Kadang, dalam keheningan dan langkah yang perlahan, manusia justru menemukan ruang untuk mengenali dirinya sendiri.

Lebih dari dua abad sejak pertama kali digelar pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono II, Mubeng Beteng tetap berjalan menyusuri benteng keraton, membawa pesan yang sama dari generasi ke generasi: menjaga keseimbangan antara dunia lahir dan batin dalam perjalanan kehidupan.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Harry Purwanto

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X