Pandangan serupa juga disampaikan peneliti asal Jerman, Susanne Rodemeier, yang mengkaji Mubeng Beteng dalam karya ilmiahnya Mubeng Beteng: A Contested Ritual of Circumambulation in Yogyakarta.
Ia melihat ritual tersebut sebagai contoh bagaimana tradisi Jawa mampu bertahan dan beradaptasi di tengah arus modernisasi tanpa kehilangan makna spiritualnya.
Baca Juga: Jenang Suro, Tradisi Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di Bulan Suro
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, tradisi Mubeng Beteng tetap menjadi magnet budaya yang menarik ribuan peserta setiap tahunnya.
Banyak peserta mengikuti ritual itu bukan hanya untuk melestarikan budaya, tetapi juga mencari ketenangan batin di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.
Bagi masyarakat Yogyakarta, Mubeng Beteng bukan sekadar warisan leluhur yang dipertahankan.
Tradisi itu menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup tidak selalu harus dijalani dengan tergesa-gesa. Kadang, dalam keheningan dan langkah yang perlahan, manusia justru menemukan ruang untuk mengenali dirinya sendiri.
Lebih dari dua abad sejak pertama kali digelar pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono II, Mubeng Beteng tetap berjalan menyusuri benteng keraton, membawa pesan yang sama dari generasi ke generasi: menjaga keseimbangan antara dunia lahir dan batin dalam perjalanan kehidupan.***
Artikel Terkait
Terancam 20 Tahun Penjara, Sadewo Mantan Bupati Pati Jateng Didakwa Korupsi Pengisian Perangkat Desa dan Proyek Jalur KA
Viral ! Supplier Curhat Ogah Jadi Pemasok MBG, Keluhkan Harga Ditekan hingga Dugaan Nota Kosong
Nasib Proyek Motor Listrik BGN Rp1 Triliun Jadi Sorotan, Dudung Usul Pegawai SPPG Cicil Motor Sendiri
BGN Ungkap Siswa SMA Berpotensi Tak Kebagian MBG Lagi, Ini Alasan di Baliknya
Nanik S Deyang Hindari Wartawan soal Motor Listrik BGN, Anas Urbaningrum: Sebaiknya Tidak Menghindar
Viral Kericuhan Diskusi UGM, Sudaryono Bantah Kabur dan Ungkap Alasan Keluar dari Lokasi
BGN Bakal Setop Sementara Program MBG Saat Libur Sekolah, Seluruh Dapur SPPG Akan Diaudit
Jenang Suro, Tradisi Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di Bulan Suro
Makna Jenang Suro dalam Tradisi Masyarakat Jawa, Simbol Syukur dan Doa Keselamatan
Peneliti Budaya, Mengapa Jenang Suro Selalu Hadir di Bulan Suro? Tradisi yang Menyatukan Doa, Syukur, dan Kebersamaan