Yogyakarta, Jawaheadline.com – Saat malam 1 Suro tiba, ribuan orang berjalan perlahan mengelilingi tradisi mubeng benteng Keraton Yogyakarta dalam keheningan.
Tidak ada percakapan, tidak ada sorak-sorai. Hanya langkah kaki yang menyusuri jalanan kota tua sebagai bagian dari tradisi Mubeng Beteng, sebuah ritual budaya yang telah bertahan lebih dari dua abad.
Tradisi ini bukan sekadar kegiatan berjalan kaki mengelilingi benteng keraton. Di balik prosesi yang dikenal sebagai tapa bisu tersebut tersimpan jejak sejarah panjang yang menghubungkan masa lalu Keraton Yogyakarta dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Berdasarkan catatan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, tradisi Mubeng Beteng telah ada sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono II, yang memimpin Kesultanan Yogyakarta pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19.
Pada mulanya, ritual tersebut merupakan upacara resmi keraton yang dijalankan oleh para abdi dalem atas perintah sultan sebagai bagian dari peringatan Tahun Baru Jawa atau malam 1 Suro.
Seiring berjalannya waktu, tradisi yang awalnya bersifat internal keraton itu berkembang menjadi ritual budaya yang dapat diikuti masyarakat luas.
Kehadiran warga dalam prosesi tersebut menunjukkan bagaimana sebuah tradisi kerajaan mampu bertransformasi menjadi ruang kebersamaan yang menghubungkan berbagai lapisan masyarakat.
Mubeng Beteng dilakukan dengan berjalan mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta sejauh sekitar lima kilometer tanpa berbicara.
Baca Juga: Makna Jenang Suro dalam Tradisi Masyarakat Jawa, Simbol Syukur dan Doa Keselamatan
Dalam pandangan budaya Jawa, keheningan selama perjalanan bukan sekadar aturan, melainkan sarana untuk menahan hawa nafsu, melakukan refleksi diri, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Peneliti budaya dari Universitas Gadjah Mada, Arya Kurnia Putra, dalam penelitiannya berjudul Nilai-Nilai Moral dalam Tradisi Mubeng Beteng Malam Satu Sura di Keraton Yogyakarta, menyebutkan bahwa tradisi tersebut mengandung nilai-nilai moral yang tetap relevan di tengah kehidupan modern.
Menurutnya, Mubeng Beteng mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan lahiriah dan batiniah yang mulai terabaikan dalam kehidupan masyarakat masa kini.
"Tradisi Mubeng Beteng memiliki nilai-nilai moral yang dapat dijadikan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari," tulis Arya dalam hasil penelitiannya.
Artikel Terkait
Terancam 20 Tahun Penjara, Sadewo Mantan Bupati Pati Jateng Didakwa Korupsi Pengisian Perangkat Desa dan Proyek Jalur KA
Viral ! Supplier Curhat Ogah Jadi Pemasok MBG, Keluhkan Harga Ditekan hingga Dugaan Nota Kosong
Nasib Proyek Motor Listrik BGN Rp1 Triliun Jadi Sorotan, Dudung Usul Pegawai SPPG Cicil Motor Sendiri
BGN Ungkap Siswa SMA Berpotensi Tak Kebagian MBG Lagi, Ini Alasan di Baliknya
Nanik S Deyang Hindari Wartawan soal Motor Listrik BGN, Anas Urbaningrum: Sebaiknya Tidak Menghindar
Viral Kericuhan Diskusi UGM, Sudaryono Bantah Kabur dan Ungkap Alasan Keluar dari Lokasi
BGN Bakal Setop Sementara Program MBG Saat Libur Sekolah, Seluruh Dapur SPPG Akan Diaudit
Jenang Suro, Tradisi Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di Bulan Suro
Makna Jenang Suro dalam Tradisi Masyarakat Jawa, Simbol Syukur dan Doa Keselamatan
Peneliti Budaya, Mengapa Jenang Suro Selalu Hadir di Bulan Suro? Tradisi yang Menyatukan Doa, Syukur, dan Kebersamaan