Jejak Dua Abad Tradisi Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta

Photo Author
Harry Purwanto, Jawaheadline.com
- Rabu, 17 Juni 2026 | 07:31 WIB
Tradisi Mubeng Beteng Yogyakarta di Malam 1 Suro 2026 (Jawaheadline.com)
Tradisi Mubeng Beteng Yogyakarta di Malam 1 Suro 2026 (Jawaheadline.com)

Yogyakarta, Jawaheadline.com – Saat malam 1 Suro tiba, ribuan orang berjalan perlahan mengelilingi tradisi mubeng benteng Keraton Yogyakarta dalam keheningan.

Tidak ada percakapan, tidak ada sorak-sorai. Hanya langkah kaki yang menyusuri jalanan kota tua sebagai bagian dari tradisi Mubeng Beteng, sebuah ritual budaya yang telah bertahan lebih dari dua abad.

Tradisi ini bukan sekadar kegiatan berjalan kaki mengelilingi benteng keraton. Di balik prosesi yang dikenal sebagai tapa bisu tersebut tersimpan jejak sejarah panjang yang menghubungkan masa lalu Keraton Yogyakarta dengan kehidupan masyarakat masa kini.

Berdasarkan catatan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, tradisi Mubeng Beteng telah ada sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono II, yang memimpin Kesultanan Yogyakarta pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19.

Baca Juga: Peneliti Budaya, Mengapa Jenang Suro Selalu Hadir di Bulan Suro? Tradisi yang Menyatukan Doa, Syukur, dan Kebersamaan

Pada mulanya, ritual tersebut merupakan upacara resmi keraton yang dijalankan oleh para abdi dalem atas perintah sultan sebagai bagian dari peringatan Tahun Baru Jawa atau malam 1 Suro.

Seiring berjalannya waktu, tradisi yang awalnya bersifat internal keraton itu berkembang menjadi ritual budaya yang dapat diikuti masyarakat luas.

Kehadiran warga dalam prosesi tersebut menunjukkan bagaimana sebuah tradisi kerajaan mampu bertransformasi menjadi ruang kebersamaan yang menghubungkan berbagai lapisan masyarakat.

Mubeng Beteng dilakukan dengan berjalan mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta sejauh sekitar lima kilometer tanpa berbicara.

Baca Juga: Makna Jenang Suro dalam Tradisi Masyarakat Jawa, Simbol Syukur dan Doa Keselamatan

Dalam pandangan budaya Jawa, keheningan selama perjalanan bukan sekadar aturan, melainkan sarana untuk menahan hawa nafsu, melakukan refleksi diri, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Peneliti budaya dari Universitas Gadjah Mada, Arya Kurnia Putra, dalam penelitiannya berjudul Nilai-Nilai Moral dalam Tradisi Mubeng Beteng Malam Satu Sura di Keraton Yogyakarta, menyebutkan bahwa tradisi tersebut mengandung nilai-nilai moral yang tetap relevan di tengah kehidupan modern.

Menurutnya, Mubeng Beteng mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan lahiriah dan batiniah yang mulai terabaikan dalam kehidupan masyarakat masa kini.

"Tradisi Mubeng Beteng memiliki nilai-nilai moral yang dapat dijadikan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari," tulis Arya dalam hasil penelitiannya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Harry Purwanto

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X