Teknologi ini memungkinkan pemantauan aliran air secara real-time sehingga kebocoran dapat dideteksi lebih cepat dan lebih akurat.
"Perumda Delta Tirta sudah mencobanya di kawasan Perumahan Shojiland dan hasilnya sangat baik," jelasnya.
Hasil uji coba tersebut menunjukkan efektivitas teknologi digital dalam menekan kehilangan air. Dari sebelumnya berada di kisaran 40 persen, tingkat kehilangan air berhasil ditekan hingga di bawah 1 persen.
Keberhasilan itu menjadi dasar bagi perusahaan untuk terus mengembangkan sistem digitalisasi pada jaringan distribusi lainnya. Namun, penerapan secara menyeluruh membutuhkan investasi yang besar sehingga harus dilakukan secara bertahap.
"Investasi untuk digitalisasi jaringan tidak kecil. Karena itu diperlukan tahapan, konsistensi, dan kesabaran agar target penurunan TKA dapat tercapai secara berkelanjutan," tambahnya.
Perumda Delta Tirta juga sempat menjajaki kerja sama dengan investor guna mempercepat program penurunan kehilangan air.
Bahkan, dua investor telah menandatangani nota kesepahaman (MoU).
Namun hingga kini kerja sama tersebut belum dapat direalisasikan karena masih menghadapi sejumlah kendala teknis maupun nonteknis.
Baca Juga: Gandeng KPK, Ahmad Luthfi Ingin Tata Kelola Tambang Jawa Tengah Terang-Benderang
Meski demikian, Dwi Hary menegaskan bahwa upaya menekan kebocoran air harus tetap menjadi komitmen perusahaan dalam jangka panjang.
Ia berharap program penurunan TKA terus dilanjutkan demi meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas layanan air bersih bagi masyarakat Sidoarjo.
"Saya berharap Perumda Delta Tirta tidak patah arang untuk terus berupaya menurunkan tingkat kehilangan air. Siapa pun direksinya nanti, semangat untuk berjuang dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat harus terus dijaga demi hasil yang lebih baik di masa mendatang," tutupnya.(yan)