JAWA TIMUR, JAWAHEADLINE.COM – Tradisi membuat Jenang Suro masih terus dilestarikan oleh sebagian masyarakat Jawa setiap memasuki bulan Suro atau Muharram.
Selain menjadi bagian dari warisan budaya leluhur, Jenang Suro juga memiliki makna filosofis sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, dan doa untuk keselamatan.
Budayawan Jawa, Supriyadi, mengatakan Jenang Suro bukan sekadar makanan tradisional yang disajikan saat pergantian tahun dalam kalender Jawa. Menurutnya, tradisi tersebut mengandung nilai-nilai spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.
"Jenang Suro merupakan simbol rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmat yang telah diberikan. Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk melakukan introspeksi diri sekaligus memanjatkan doa agar diberikan keselamatan dan keberkahan dalam menjalani kehidupan ke depan," kata Supriyadi, Selasa (17/6/2026).
Baca Juga: Jenang Suro, Tradisi Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di Bulan Suro
Ia menjelaskan, bulan Suro dalam tradisi masyarakat Jawa kerap dimaknai sebagai momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan sesama, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Karena itu, pembuatan Jenang Suro tidak hanya berfokus pada proses memasak, tetapi juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Setelah selesai dibuat, jenang biasanya dibagikan kepada tetangga dan kerabat sebagai bentuk kepedulian sosial dan kebersamaan.
Baca Juga: BGN Bakal Setop Sementara Program MBG Saat Libur Sekolah, Seluruh Dapur SPPG Akan Diaudit
Menurut Supriyadi, tradisi tersebut juga mengajarkan nilai gotong royong yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa sejak dahulu.
"Melalui pembagian Jenang Suro, masyarakat diajarkan untuk berbagi rezeki dan menjaga kerukunan. Nilai inilah yang membuat tradisi tersebut tetap bertahan hingga sekarang," ujarnya.
Meski perkembangan zaman terus membawa perubahan dalam pola hidup masyarakat, tradisi Jenang Suro masih dapat ditemukan di berbagai daerah di Jawa.
Baca Juga: Viral Kericuhan Diskusi UGM, Sudaryono Bantah Kabur dan Ungkap Alasan Keluar dari Lokasi
Sejumlah keluarga bahkan menjadikannya sebagai agenda rutin yang diwariskan kepada generasi muda.
Artikel Terkait
Indonesia dan Qatar Gelar Konsultasi Politik Perdana, Sepakati Strategic Dialogue Tahun 2026 ini
KJRI Johor Bahru Lindungi Dua WNI Korban Dugaan Kekerasan Majikan di Malaysia
Terancam 20 Tahun Penjara, Sadewo Mantan Bupati Pati Jateng Didakwa Korupsi Pengisian Perangkat Desa dan Proyek Jalur KA
Viral ! Supplier Curhat Ogah Jadi Pemasok MBG, Keluhkan Harga Ditekan hingga Dugaan Nota Kosong
Nasib Proyek Motor Listrik BGN Rp1 Triliun Jadi Sorotan, Dudung Usul Pegawai SPPG Cicil Motor Sendiri
BGN Ungkap Siswa SMA Berpotensi Tak Kebagian MBG Lagi, Ini Alasan di Baliknya
Nanik S Deyang Hindari Wartawan soal Motor Listrik BGN, Anas Urbaningrum: Sebaiknya Tidak Menghindar
Viral Kericuhan Diskusi UGM, Sudaryono Bantah Kabur dan Ungkap Alasan Keluar dari Lokasi
BGN Bakal Setop Sementara Program MBG Saat Libur Sekolah, Seluruh Dapur SPPG Akan Diaudit
Jenang Suro, Tradisi Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di Bulan Suro