Kawasan tersebut dipilih sebagai lokasi awal untuk menyusun konsep penataan kampung yang nantinya dapat diterapkan di wilayah lain di Kota Yogyakarta.
Menurut Hasto, tahap awal kegiatan akan dimulai dengan pemetaan kondisi eksisting kawasan, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan desain yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter masyarakat setempat.
"Kita mulai dari Pakualaman sebagai pilot project. Nanti kondisi yang ada dipresentasikan terlebih dahulu, kemudian baru didesain. Setelah desainnya jadi, baru bisa kita sampaikan lebih detail," imbuhnya.
Kampung Jamu Ginggang Jadi Lokasi Studi
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DIY, Erlangga Winoto, menjelaskan bahwa Wellness Architecture Masterclass Satu Kampung Satu Arsitek merupakan bagian dari pengembangan arsitektur berbasis kawasan yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses perencanaan.
Sebagai lokasi studi, dipilih Kampung Jamu Ginggang yang dikenal sebagai sentra jamu tradisional dan memiliki nilai historis, budaya, kesehatan, serta aktivitas ekonomi yang kuat.
"Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif pengembangan arsitektur berbasis kawasan yang mendorong keterlibatan arsitek secara langsung bersama masyarakat. Kampung Jamu Ginggang memiliki potensi yang kuat karena memadukan aspek budaya, kesehatan, dan ekonomi lokal," jelas Erlangga.
Melalui program tersebut, IAI DIY berharap tercipta sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, profesi arsitek, dan kalangan akademisi dalam mengembangkan kawasan yang kontekstual, berkelanjutan, serta berbasis potensi lokal.
Program Satu Kampung Satu Arsitek diharapkan menjadi langkah awal menghadirkan wajah baru kampung-kampung di Kota Yogyakarta yang lebih tertata, nyaman dihuni, memiliki identitas kuat, serta mampu meningkatkan nilai ekonomi dan daya tarik wisata bagi masyarakat.***
Artikel Terkait
Kemenag Yogyakarta Turun ke Lapangan, Cek Kelengkapan Administrasi Rumah Ibadah
Ribuan Warga Turun ke Jalan, Aksi Ngepel Malioboro Jogja Jadi Sorotan pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Winongo Art Festival 2026 Sukses Digelar, Sungai Winongo Diproyeksikan Jadi Destinasi Wisata Baru Yogyakarta
PG Madukismo Jadi Benteng Terakhir Industri Gula DIY, Warisi Sejarah 19 Pabrik yang Hilang
PG Madukismo Target Giling 4,8 Juta Kuintal Tebu, Produksi Capai 250 Ton Gula per Hari
Kemitraan dengan Petani Jadi Kunci PG Madukismo Bertahan Lebih dari 70 Tahun
Tak Sekadar Pabrik Gula, PG Madukismo Tawarkan Wisata Edukasi Unik yang Jarang Ditemukan di Jogja
Kenduri Suro Keparakan Lor Tak Sekadar Tradisi, Jadi Penggerak Kebersamaan dan Ekonomi Warga Jogja
Wali Kota Yogyakarta Ungkap Strategi Atasi Sampah di Jogja, Mas JOS Jadi Andalan Utama
Jejak Dua Abad Tradisi Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta