JAWAHEADLINE.COM - Bulan Suro selalu memiliki tempat istimewa bagi masyarakat Jawa. Selain dikenal sebagai bulan yang penuh perenungan dan introspeksi diri, datangnya bulan pertama dalam kalender Jawa ini juga ditandai dengan berbagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah tradisi membuat Jenang Suro.
Di sejumlah daerah di Jawa, termasuk wilayah pedesaan, Jenang Suro masih dibuat oleh masyarakat sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tradisi tersebut biasanya dilakukan pada awal bulan Suro dan melibatkan seluruh anggota keluarga.
Baca Juga: BGN Bakal Setop Sementara Program MBG Saat Libur Sekolah, Seluruh Dapur SPPG Akan Diaudit
Berbeda dengan jenang pada umumnya, Jenang Suro memiliki ciri khas tersendiri.
Terbuat dari beras, santan, dan berbagai bahan pelengkap lainnya, proses pembuatannya membutuhkan kesabaran karena harus diaduk dalam waktu yang cukup lama hingga mencapai tekstur yang diinginkan.
Bagi masyarakat Jawa, Jenang Suro bukan sekadar makanan tradisional. Di balik setiap bahan yang digunakan tersimpan makna filosofis yang mencerminkan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Jenang menjadi simbol kebersamaan, kerukunan, serta pengingat agar manusia selalu bersyukur atas rezeki yang diterima.
Baca Juga: Viral Kericuhan Diskusi UGM, Sudaryono Bantah Kabur dan Ungkap Alasan Keluar dari Lokasi
Tradisi membuat Jenang Suro juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Setelah selesai dimasak, jenang biasanya dibagikan kepada tetangga, kerabat, maupun tamu yang datang. Kebiasaan berbagi tersebut menjadi wujud nyata semangat gotong royong yang telah lama melekat dalam budaya Jawa.
Meski perkembangan zaman terus berjalan, tradisi ini masih bertahan di sejumlah daerah.
Banyak keluarga yang tetap menjaga kebiasaan tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus upaya melestarikan warisan budaya.