"Harapan kami dalam workshop pengembangan kapasitas SDM pariwisata ini bisa ada hal-hal upskilling untuk para pemandu wisata. Kalau saya lebih berharap ada suatu benang merah untuk hal-hal yang akan kita coba roadmap ke depan, bisa kita tingkatkan lagi, sehingga pariwisata di Kota Yogyakarta bisa kita kembangkan lagi," tutur Wawan.
Pramuwisata Jadi Ujung Tombak Pariwisata
Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, mengatakan pemandu wisata memiliki peran strategis dalam membangun citra dan pengalaman wisatawan selama berada di Kota Yogyakarta.
Menurutnya, wisatawan saat ini tidak hanya ingin melihat destinasi wisata, tetapi juga ingin memahami cerita, sejarah, budaya, hingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Baca Juga: BBM B50 Resmi Berlaku Juli 2026, Benarkah Aman ? Ini Hasil Uji Coba yang Sempat Jadi Sorotan
Karena itu, kemampuan bercerita atau storytelling menjadi kompetensi yang harus terus ditingkatkan oleh para pramuwisata.
"Guide menjadi ujung tombak narasi terkait dengan pariwisata Kota Yogyakarta. Kami ndherek juga harus meng-update terkait dengan digital dan media sosial. Ketika wisatawan dari mancanegara atau dari luar daerah lihat di medsos ternyata ini bagus banget saya mau ke sana. Bapak Ibu (pramuwisata) harus bisa menggambarkan secara utuh dan lengkap sesuai dengan keadaan. Mengupdate Kota Yogyakarta agar tersampaikan dengan baik dan benar. Misalnya terkait isu sumbu filosofi Yogyakarta yang menjadi warisan budaya dunia," terang Daning.
Dalam workshop tersebut, peserta mendapatkan berbagai materi terkait pemanfaatan teknologi digital, mulai dari teknik dasar fotografi dan videografi menggunakan telepon pintar, penggunaan Google Maps dan Google Calendar, hingga pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung aktivitas pramuwisata.
Baca Juga: BBWS Ciliwung-Cisadane Mulai Tangani Longsor Bantaran Sungai di Graha Grande Bogor
Pemandu Wisata Dituntut Ikuti Tren Digital
Ketua HPI Kota Yogyakarta, Caecilia Dian Eka Pemiastuti, menyambut baik pelaksanaan workshop tersebut karena dinilai sesuai dengan kebutuhan para pemandu wisata saat ini.
Ia mengungkapkan tren wisata terus berubah, termasuk meningkatnya kebutuhan wisatawan terhadap konten media sosial selama melakukan perjalanan.
"Kita mengikuti demand wisatawan saat ini. Contohnya untuk wisatawan lokal, mereka itu suka bikin konten, atau suka kadang meminta guide untuk tolong difotoin, tolong dibikinin Tik Tok atau diarahkan gaya. Pemandu harus bisa mengikuti tren. Kita nggak bisa melulu hanya cerita saja. Apalagi mereka butuh upload di sosial media. Makanya tema IT yang kita angkat dari workshop ini," pungkas Dian.
Saat ini HPI Kota Yogyakarta memiliki sekitar 122 anggota yang aktif mendampingi wisatawan.
Melalui peningkatan kompetensi digital, para pramuwisata diharapkan mampu memberikan layanan yang lebih profesional sekaligus memperkuat daya saing pariwisata Kota Yogyakarta di tengah perkembangan era digital.***
Artikel Terkait
Ribuan Warga Turun ke Jalan, Aksi Ngepel Malioboro Jogja Jadi Sorotan pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Winongo Art Festival 2026 Sukses Digelar, Sungai Winongo Diproyeksikan Jadi Destinasi Wisata Baru Yogyakarta
PG Madukismo Jadi Benteng Terakhir Industri Gula DIY, Warisi Sejarah 19 Pabrik yang Hilang
PG Madukismo Target Giling 4,8 Juta Kuintal Tebu, Produksi Capai 250 Ton Gula per Hari
Kemitraan dengan Petani Jadi Kunci PG Madukismo Bertahan Lebih dari 70 Tahun
Tak Sekadar Pabrik Gula, PG Madukismo Tawarkan Wisata Edukasi Unik yang Jarang Ditemukan di Jogja
Kenduri Suro Keparakan Lor Tak Sekadar Tradisi, Jadi Penggerak Kebersamaan dan Ekonomi Warga Jogja
Wali Kota Yogyakarta Ungkap Strategi Atasi Sampah di Jogja, Mas JOS Jadi Andalan Utama
Jejak Dua Abad Tradisi Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta
Pemkot Yogyakarta Gandeng IAI, Program Satu Kampung Satu Arsitek Dimulai dari Pakualaman