JOGJA, JAWAHEADLINE.COM – Wisata edukasi industri di Yogyakarta menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang ingin melihat langsung proses produksi gula. Salah satu destinasi yang masih bertahan hingga kini adalah Agrowisata Pabrik Gula (PG) Madukismo di Padokan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, yang menjadi satu-satunya pabrik gula aktif di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Tidak hanya menyuguhkan nilai sejarah industri gula di Yogyakarta, PG Madukismo juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan secara langsung proses pengolahan tebu menjadi gula melalui program agrowisata kunjungan industri.
Koordinator Pengembangan Aset PT Madubaru PG PS Madukismo, Mahmud Safrudin, mengatakan program wisata tersebut telah dibuka untuk umum sejak 1997 dan hingga kini masih menjadi daya tarik tersendiri bagi pelajar, mahasiswa, komunitas, hingga wisatawan umum.
Baca Juga: PG Madukismo Jadi Benteng Terakhir Industri Gula DIY, Warisi Sejarah 19 Pabrik yang Hilang
Wisata Edukasi Menelusuri Proses Produksi Gula
Melalui paket agrowisata, pengunjung diajak mengenal perjalanan panjang industri gula di Yogyakarta sekaligus melihat aktivitas produksi di dalam pabrik yang masih beroperasi.
Selama kurang lebih dua jam, peserta akan mendapatkan penjelasan mengenai sejarah pabrik, proses pengolahan tebu, hingga melihat langsung berbagai tahapan produksi gula dari dekat.
Pengunjung juga akan diajak berkeliling area pabrik menggunakan kereta wisata khusus yang disediakan oleh pengelola.
Menurut Mahmud, konsep wisata industri ini dirancang untuk memberikan pengalaman edukatif yang tidak banyak ditemukan di tempat lain.
Menyimpan Jejak Sejarah Industri Gula Yogyakarta
Selain menjadi destinasi wisata edukasi, PG Madukismo juga menyimpan nilai sejarah penting bagi perkembangan industri gula di DIY.
Pabrik yang berdiri pada 1955 atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwono IX tersebut dibangun setelah 19 pabrik gula yang pernah berjaya di wilayah Yogyakarta tidak lagi beroperasi akibat berbagai peristiwa sejarah, termasuk masa perjuangan kemerdekaan.
Mahmud menuturkan, pendirian PG Madukismo saat itu lebih berorientasi pada pemulihan lapangan kerja masyarakat dibanding mengejar keuntungan semata.
"Dulu di Yogyakarta itu ada 19 pabrik gula, di mana ke-19 pabrik gula itu dibumihanguskan karena dipakai markas tentara Belanda pada waktu itu." tutur Mahmud dikutip dari jogjaprov.go.id.
Artikel Terkait
Rekonstruksi Kasus Daycare Little Aresha Jogja Ungkap Sejumlah Fakta Mengejutkan, Begini Selengkapnya !
Gus Miftah Soroti Pelaksanaan MBG, Ingatkan Pejabat dan SPPG Jalankan Program Secara Amanah
Sambut HUT Bhayangkara ke-80, Polresta Yogyakarta Gelar Bhakti Religi di Masjid dan Klenteng
Kemenag Yogyakarta Turun ke Lapangan, Cek Kelengkapan Administrasi Rumah Ibadah
Ribuan Warga Turun ke Jalan, Aksi Ngepel Malioboro Jogja Jadi Sorotan pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Winongo Art Festival 2026 Sukses Digelar, Sungai Winongo Diproyeksikan Jadi Destinasi Wisata Baru Yogyakarta
PG Madukismo Jadi Benteng Terakhir Industri Gula DIY, Warisi Sejarah 19 Pabrik yang Hilang
PG Madukismo Target Giling 4,8 Juta Kuintal Tebu, Produksi Capai 250 Ton Gula per Hari
Kemitraan dengan Petani Jadi Kunci PG Madukismo Bertahan Lebih dari 70 Tahun