"Sepuluh tahun setelah kemerdekaan, dibangunlah pabrik gula ini yang tujuan utamanya untuk merekrut tenaga kerja yang bekerja di 19 pabrik gula tersebut. Hebatnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada waktu itu bukan berpikiran profit oriented, melainkan yang jelas masyarakat Jogja bisa bekerja kembali," lanjut Mahmud.
Pengunjung Bisa Menyaksikan Musim Giling Tebu
Daya tarik utama wisata PG Madukismo berada pada musim giling tebu yang berlangsung setiap tahun.
Pada periode tersebut, wisatawan dapat menyaksikan aktivitas produksi secara lebih lengkap, mulai dari kedatangan tebu hingga proses menjadi gula kristal siap konsumsi.
Baca Juga: Gandeng KPK, Ahmad Luthfi Ingin Tata Kelola Tambang Jawa Tengah Terang-Benderang
Saat ini kapasitas penggilingan PG Madukismo mencapai 3.500 ton tebu per hari dengan hasil produksi sekitar 250 ton gula setiap harinya.
"Kapasitas giling kami itu setiap hari 3.500 ton tebu. Sehari bisa menghasilkan sebanyak 250 ton gula atau 5.000 karung. Satu karungnya 50 kg. Kurang lebih segitu. Nah, hasil produksi ini baru bisa mencukupi wilayah Jogja dan Jawa Tengah," jelas Mahmud.
Selain melihat proses produksi, wisatawan juga dapat memperoleh pengetahuan mengenai budidaya tebu, kualitas bahan baku, hingga teknologi yang digunakan dalam industri gula modern.
Tarif Terjangkau untuk Wisata Rombongan
PG Madukismo menyediakan paket kunjungan industri dengan tarif mulai Rp450.000 untuk satu rombongan berjumlah maksimal 30 orang.
Paket tersebut menjadi pilihan menarik bagi sekolah, perguruan tinggi, instansi pemerintah, maupun komunitas yang ingin menggabungkan kegiatan wisata dengan pembelajaran industri dan sejarah.
Dengan perpaduan nilai edukasi, sejarah, dan pengalaman melihat langsung proses produksi gula, Agrowisata PG Madukismo menjadi salah satu destinasi wisata unik di Bantul yang terus menarik minat wisatawan setiap tahunnya.***