Nana menyebut bahwa akun Instagram miliknya saat itu sedang digunakan oleh tim media digital yang membantu mengelola aktivitas media sosialnya.
Menurutnya, komentar tersebut ditulis secara spontan oleh anggota tim yang sedang mengakses akun tersebut.
Baca Juga: Perbaikan Jalan Rusak Sragen Dimulai Akhir Juli 2026, Pemprov Jateng Kucurkan Anggaran Rp21 Miliar
Ia juga mengaku baru mengetahui polemik yang berkembang setelah menerima banyak telepon pada malam hari.
Keterbatasan dalam penggunaan teknologi, menurutnya, membuat ia tidak segera memantau reaksi publik yang muncul.
Terlepas dari siapa yang menulis komentar tersebut, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa media sosial kini bukan sekadar ruang berbagi informasi, tetapi juga cermin integritas dan tanggung jawab publik.
Setiap kata yang muncul dari akun seorang pejabat akan selalu dipandang sebagai representasi institusi yang diwakilinya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat semakin menuntut komunikasi yang santun, empatik, dan menghormati perbedaan pendapat.
Sebab pada akhirnya, jabatan publik bukan hanya soal kebijakan yang dibuat, tetapi juga tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan masyarakat yang dilayani.***