"Ini kejahatan luar biasa dan selalu berulang, artinya orang enggak ada takutnya. Makanya saya setuju lebih tepat dijatuhi hukuman mati," sambung Mahfud.
Dinilai Terjadi Saat Daerah Mengalami Keterbatasan Anggaran
Mahfud juga menyoroti kondisi sejumlah daerah yang mengalami keterbatasan anggaran setelah adanya kebijakan efisiensi dan pengalihan dana ke berbagai program prioritas nasional.
Ia menilai dugaan korupsi terhadap anggaran yang diperuntukkan bagi kepentingan publik menjadi persoalan yang sangat serius karena berdampak luas terhadap pelayanan masyarakat.
Baca Juga: Jejak Dua Abad Tradisi Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta
"Kenapa (kasus) ini luar biasa, karena berbagai daerah sekarang itu mengeluh anggarannya tidak cukup sesudah ada penghematan banyak dan disalurkan kepada BGN," ujar Mahfud.
"Di daerah banyak orang tidak berdaya, banyak orang yang mau melakukan pemberhentian kerja-kerja kontrak, dan sebagainya karena dananya berkurang sekarang. Tenaga honorer, tenaga di kantor pemerintah yang PPPK, dan sebagainya terancam dihentikan," terangnya.
Menurut Mahfud, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan dugaan adanya pihak-pihak yang justru mengambil keuntungan pribadi dari pengelolaan anggaran negara.
Soroti Pernyataan Dadan Hindayana Soal Korupsi
Dalam siniar yang sama, Mahfud turut mengomentari pernyataan Dadan Hindayana yang sebelumnya menyebut bahwa ancaman terbesar bagi BGN adalah kasus keracunan dan korupsi, namun korupsi dinilai mudah dikendalikan.
Baca Juga: Tim SAR Gabungan Temukan Korban Tenggelam di Pantai Pangi Blitar Setelah Enam Hari Pencarian
"Kata dia, kalau korupsi dijamin nggak ada, mudah dikontrol. Tapi yang memang jadi masalah bagi dia adalah keracunan karena langsung menyentuh penerima manfaat," kata Mahfud.
Mahfud menilai pernyataan tersebut bertolak belakang dengan perkembangan kasus yang kini tengah menjadi perhatian publik.
"Dia optimis, enggak ada korupsi ternyata korupsinya paling besar dalam beberapa tahun terakhir. Jadi, triliunan uang dia makan begitu saja dan merasa tidak berbuat apa-apa sebelum dia ditangkap, merasa baik dan nekat," tambahnya.
Ia juga menyinggung sejumlah pengadaan barang yang dilakukan BGN, termasuk pembelian motor listrik dan berbagai kebutuhan lain yang menggunakan anggaran besar.