JOGJA, JAWAHEADLINE.COM - Kemitraan petani tebu, PG Madukismo, dan ekonomi pertanian Yogyakarta menjadi faktor utama yang membuat pabrik gula legendaris di Bantul ini tetap eksis di tengah dinamika industri gula nasional.
Di tengah berbagai tantangan bisnis dan fluktuasi harga komoditas, PG Madukismo memilih memperkuat kerja sama dengan petani sebagai fondasi keberlanjutan usaha.
Koordinator Pengembangan Aset PT Madubaru PG PS Madukismo, Mahmud Safrudin, menegaskan bahwa perusahaan memandang petani sebagai mitra strategis, bukan sekadar pemasok bahan baku.
Baca Juga: PG Madukismo Target Giling 4,8 Juta Kuintal Tebu, Produksi Capai 250 Ton Gula per Hari
"Saat ini ya berbeda dengan zaman dahulu, kini tetap mencari profit. Tetapi, kita tetap bisa bertahan karena pola kemitraan kita dengan petani itu bukan kita anggap buruh, tetapi mitra" ungkap Mahmud dikutip dari jogjaprov.go.id.
"Kami mempunyai slogan ‘Petani adalah Mitra Sejati’. Itu yang membuat kita masih tetap eksis seperti ini. Namanya gelombang naik turun perusahaan itu pasti ada, tetapi kuncinya kemitraan, kerja sama dengan petani. Ke petani hitungannya 66% untuk petani," lanjutnya
Serap Ribuan Tenaga Kerja Musiman
Selain menjaga kemitraan dengan petani, PG Madukismo juga berkontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja di DIY.
Selama musim giling, kebutuhan tenaga kerja meningkat signifikan hingga mendekati 1.000 orang yang terdiri dari karyawan tetap, kontrak, hingga pekerja musiman.
"Namanya karyawan kontrak waktu tertentu atau karyawan musiman, honorer. Saat masa penggilingan jumlah karyawan yang dibutuhkan mencapai hampir 1.000 karyawan. Itu sudah meliputi karyawan borong, kontrak, tetap, kurang lebih segitu," papar Mahmud.
Tak hanya fokus pada produksi gula, PG Madukismo juga mengembangkan sektor wisata edukasi melalui program agrowisata yang memungkinkan masyarakat melihat langsung proses produksi gula sekaligus mengenal sejarah industri gula di Yogyakarta.***