Zulhas menjelaskan, apabila biaya operasional setiap titik mencapai Rp6 juta per hari, maka tambahan 6.877 titik dapat menimbulkan pengeluaran lebih dari Rp1 triliun setiap bulan.
"Kalau ada 6.877 penambahan, satu bulan ada pengeluaran lebih Rp1 triliun. Pemborosan. Berarti kalau satu tahun sekitar Rp12 triliun," tandasnya.
Hingga saat ini, Badan Gizi Nasional masih melakukan kajian terkait skema refocusing penerima manfaat MBG, termasuk kemungkinan penghentian distribusi program bagi sekolah-sekolah yang dinilai berasal dari kalangan mampu.***