"Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," ungkap Sudaryono.
Menurutnya, keputusan meninggalkan lokasi semata-mata dilakukan atas pertimbangan keamanan dan bukan karena enggan melanjutkan diskusi.
"Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi," jelasnya.
"Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," tambah Sudaryono.
Mahasiswa Sebut Penghentian Diskusi Bentuk Kritik
Di sisi lain, kalangan mahasiswa memiliki pandangan berbeda terkait insiden tersebut.
Salah satu anggota Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM, Mesa, menilai penghentian jalannya diskusi merupakan bentuk ekspresi kritik terhadap pemerintah.
Menurutnya, pemerintah seharusnya membuka ruang yang lebih luas bagi kritik publik dan tidak menganggap perbedaan pendapat sebagai ancaman.
Baca Juga: Indonesia dan Qatar Gelar Konsultasi Politik Perdana, Sepakati Strategic Dialogue Tahun 2026 ini
"Mereka tidak layak membicarakan Pancasila selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat," kata Mesa.
"Selama mereka menganggap kritik sebagai gangguan, selama mereka masih membuang-buang uang rakyat dengan program nirmanfaat," tegasnya.
Mesa juga menilai gesekan yang terjadi dalam forum tersebut merupakan konsekuensi dari dinamika demokrasi ketika kritik tidak lagi mendapat respons yang dianggap memadai oleh masyarakat.
"Gesekan itu justru terjadi karena mereka banyak mengibul, mereka banyak berbohong," ujarnya.
"Gesekan-gesekan yang terjadi tadi justru memang hal yang wajar dalam negara demokrasi," tandas Mesa.