JAWAHEADLINE.COM – Program MBG kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah pemasok atau supplier mengaku enggan bekerja sama dengan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Keluhan yang ramai diperbincangkan di media sosial menyebut adanya permintaan penurunan harga bahan pangan hingga dugaan praktik permintaan nota kosong.
Perbincangan tersebut mencuat melalui sejumlah unggahan di platform Threads yang viral dalam beberapa hari terakhir.
Sejumlah pelaku usaha mengaku keberatan dengan harga yang ditawarkan karena dinilai terlalu rendah dan tidak sesuai dengan kualitas barang yang diminta.
Supplier Keluhkan Permintaan Harga Terlalu Murah
Dalam utas yang ramai diperbincangkan, sejumlah pelaku usaha mengungkap alasan mereka memilih menolak menjadi pemasok bahan baku untuk program MBG.
Salah satunya disampaikan akun @__soffit yang mengaku diminta menurunkan harga roti burger mini yang dijualnya.
"Roti burger mini sudah harga seribun masih dinego juga. Roti bungkus pabrik aja minimal Rp2.000, masa saya UMKM disuruh jualan di bawah Rp1.000?" tulis akun tersebut.
Baca Juga: Indonesia dan Qatar Gelar Konsultasi Politik Perdana, Sepakati Strategic Dialogue Tahun 2026 ini
Keluhan serupa juga diungkapkan akun @niedasabila yang mengaku mendengar langsung curahan hati pedagang di pasar terkait kerja sama dengan dapur MBG.
"Kemarin ke pasar, tukang tempe dan buah curhat ogah menyuplai dapur MBG, alasannya harga minta murah tapi spek minta grade A+++++," tulisnya.
Ia menambahkan, harga yang ditawarkan disebut jauh di bawah harga pasar.
"Misal dia biasa jual ecer Rp5.000, dia ngasih penawaran Rp4.500 apa Rp4.000 karena partai besar. SPPG maunya harga Rp2.000. Jangankan untung, balik modal aja ngga dihargain segitu. Itu bukan support pedagang dan UMKM lokal, itu namanya nyekek," lanjutnya.
Muncul Dugaan Penggunaan Buah Sortiran Rendah